Selasa, 22 Februari 2011

ABSTRAK MODEL BELAJAR KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN MENULIS BAHASA INGGRIS

ABSTRAK
MODEL BELAJAR KONSTRUKTIVISME
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS BAHASA INGGRIS
(Studi Eksperimen atas Kemampuan Menulis Bahasa Inggris pada Siswa Kelas X di SMAN I Babadan Kabupaten Ponorogo)
Drs. H.M. NURHADI HANURI


Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan model yang efektif dalam pembelajaran menulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan metode kuasi eksperimen. Subjeknya kemampuan menulis 122 orang siswa kelas X SMAN I Babadan Ponorogo. Instrumen pengumpulan datanya adalah tes, observasi lapangan, angket, dan wawancara. Untuk analisis data kuantitatif digunakan teknik analisis statistik yaitu uji t, sedangkan untuk data kualitatif digunakan teknik analisis deskriptif.
Hasil penelitiannya adalah (1) secara umum model belajar konstruktivisme dapat diterima oleh siswa sebagai suatu kemudahan dalam belajar menulis, (2) model konstruktivisme memiliki keunggulan secara komparatif terhadap model belajar konvensional yang digunakan di kelas kontrol, (3) secara umum model belajar konstruktivisme dapat meningkatkan seluruh aspek keterampilan menulis, (4) keunggulan model belajar konstruktivisme adalah melatih sistematika berpikir, memotivasi untuk berbuat lebih kreatif, dan memberikan lingkungan belajar yang kondusif berupa lingkungan alam sebagai sumber belajar, (5) kelemahan model belajar konstruktivisme adalah perlu latihan adaptasi lebih dahulu untuk dapat belajar mandiri dalam mengkontruksi pengetahuannya, dan (6) model belajar konstruktivisme mempunyai perbedaan yang signifikan dengan metode konvensional terhadap peningkatan kemampuan menulis kelas eksperimen.
Kata kunci: model belajar, konstruktivisme, pembelajaran menulis.











1
Pendahuluan
Perkembangan dewasa ini telah menempatkan bahasa Inggris sebagai satu-satunya bahasa pergaulan internasional. Dalam posisinya itu, bahasa Inggris merupakan bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi; karenanya tanpa kemampuan bahasa Inggris seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan dunia yang semakin terbuka, cepat, dan tak terkendali.
Ada beberapa masalah yang menyangkut rendahnya mutu pembelajaran keterampilan berbahasa ini. Imran (2000:17) menjelaskan bahwa menurut penelitian yang dilakukan oleh Taufik Ismail ternyata keterampilan menulis siswa Indonesia paling rendah di Asia. Begitu juga menurut laporan Bank Dunia (1998) tentang hasil tes membaca murid di Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur. Rata-rata hasil tes membaca di beberapa negara menunjukkan sebagai berikut: Hongkong 75,5%, Singapura 74%, Thailand 65,1%, Filipina 52,6%, dan Indonesia 51,7% ( Semiawan, 2003: 574). Selanjutnya, Semiawan juga menjelaskan bahwa hasil penelitian itu menunjukkan para siswa di Indonesia hanya mampu memahami 30% dari materi bacaan dan mengalami kesulitan menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Penelian yang lain juga menuliskan prestasi siswa SMA kelas X di Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA dan ke-34 untuk Matematika dari 38 negara peserta. Hal ini didasarkan atas temuan The Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R) pada tahun 1999. Berkenaan dengan ini, Sarwoko (2003) menyebutkan bahwa menulis merupakan budaya intelektual yang memprihatinkan.
Pendidikan bahasa Inggris sesungguhnya diajarkan bukanlah dengan tujuan agar siswa memahaminya sebagai sejenis pengetahuan, sehingga berkesan seolah-olah siswa itu tengah disiapkan untuk menjadi seorang ahli bahasa Inggris. Akhirnya, siswa akan dijejali oleh sejumlah perangkat, aturan, dan hukum-hukum tata bahasa yang mesti dihapalnya di luar kepala; tidak mempergunakannya dalam suatu pengalaman berbahasa.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka pembelajaran menulis perlu beralih dari model belajar konvensional yang dilandasi oleh asumsi bahwa “pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa” ke model belajar modern (konstruktivisme).
Pendekatan konstruktivisme, sejalan dengan keterampilan proses, terpadu, dan pendekatan whole language. Pembelajaran model ini tidak dilaksanakan terpisah-pisah, tetapi dilaksanakan secara utuh sesuai dengan minat, kemampuan, dan keperluan belajar.

2
Aspek kebahasaan, keterampilan berbahasa, dan kosakata disajikan secara bersamaan sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan emosional, kognitif, dan sosial budaya.
Keberhasilan penerapan model belajar konstruktivisme yang diterapkan dalam bidang sains yang diaplikasikan dalam pembelajaran dengan pendekatan sains, teknologi, dan masyarakat sudah menunjukkan keberhasilan yang memuaskan di Indonesia (Hidayat, 1996). Dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris konsep-konsep konstruktivisme ini belum diterapkan. Tesis dan disertasi menulis selama ini belum mencerminkan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme.

Perumusan Masalah
Masalah yang akan dicari jawabannya melalui penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. “Apakah model belajar konstruktivisme dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris kelas X SMA?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberterimaan, keunggulan, signifikansi, dan hasil pembelajaran menulis bahasa Inggris model belajar konstruktivisme di SMA.

Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
Ho : Tidak terdapat perbedaan kemampuan menulis bahasa Inggris siswa yang menggunakan model belajar konstruktivisme dengan kemampuan menulis siswa yang menggunakan model konvensional.
Ha : Rata-rata kemampuan menulis bahasa Inggris siswa yang menggunakan model belajar konstruktivisme lebih tinggi daripada kemampuan menulis siswa yang menggunakan model belajar konvensional.



3
Teknik Analisis Data
Analisis Karangan
Analisis karangan meliputi aspek kebahasaan, aspek kognitif, dan aspek afektif yang diadaptasi dari teori analisis karangan yang dikemukakan oleh Wilkinson (1983) dan ditambah untuk aspek emosinal dari Goleman (1995), Sapiro (1997), dan Nggermanto (2002).

Pengolahan Nilai Karangan
Nilai karangan dengan hasil penilaian karangan berdasarkan kriteria Jakobs, dkk. diolah secara statistik dengan menggunakan program EXCEL dan SPSS.

Kajian Pustaka
Pengertian dan Tujuan Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstrukti visme ada lah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme meru pakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang diba ngun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain
Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terha dap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
4
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Ciri-Ciri Pembelajaran Yang Konstruktivisme
Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar. Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid. Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar s esuatu idea
Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
Menganggap pembel ajaran sebagai suatu proses yang sama penti ng dengan hasil pembel ajaran Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.

Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah :
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid
sendiri untuk menalar
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
ilmiah
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancer
5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7. Mencari dan menilai pendapat siswa
8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang mem buat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan menga jak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
5
Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi , tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya.

Proses Belajar Menurut Konstruktivistik
Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek si belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
1. Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang dari pendekatan
kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas.
2. Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan
Pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri.
3. Peranan guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses
pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan
pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk
pengetahuannya sebdiri.
4. Sarana belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar
adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti
bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu
pembentukan tersebut.
5. Evaluasi. Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung
munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan, serta
aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman.

Implikasi Konstruktivisme Pada Pembelajaran
a. Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya
namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang
6
diajarkan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik, namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Karena, hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan.
b. Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya, sehingga pengetahuan materi yang dibangun
atau dikonstruksi para siswa sendirisan bukan ditanamkan oleh guru. Para sisiwa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya.
c. Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan
para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu.
d. Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep
materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan
e. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan
pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.
f. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan
menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
g. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan
dirinya. Guru hanya sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang membuat situasi kondusif
untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Pandangan Konstruktivisme Tentang Belajar adalah sebagai berikut:
1) Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan non objektif, bersifat temporer, selalu
berubah dan tidak menentu.
2) Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif dan
refleksi dan interpretasi.
3) Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung
pengalamannya dan persepektif yang didalam menginterprestasikannya.

7
Pembahasan Hasil Penelitian
. Setelah mendapatkan pembelajaran dengan model belajar konstruktivisme, keterampilan menulis siswa berdasarkan persen rata-rata keterampilan menulis, secara umum dalam kategori baik, dan sangat baik yaitu antara 73,9% sampai 80,5%. Kemampuan menulis untuk kelas kontrol secara umum adalah termasuk kategori sedang dengan rata-rata pascates menulis 64,25%.
Kemampuan menulis karangan siswa yang mendapat perlakuan dengan pembelajaran model konstruktivisme mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan menulis siswa yang mendapatkan model konvensional. Peningkatan kemampuan menulis yang dilakukan oleh guru eksperimen I (kelas X1) dan kemampuan menulis kelas eksperimen II (kelas X2) yang dilakukan oleh peneliti, menunjukkan peningkatan yang sama (tidak ada perbedaan secara signifikan pada taraf kepercayaan 95%). Hal ini dimungkinkan karena dalam pembelajaran model konstruktivisme, peneliti dan guru mengetahui secara orisinal model pembelajaran tersebut, sehingga siswa dapat dilatih dan “diasah” ketajaman pikirannya dalam mengungkapkan ide dengan menghubungkan pengetahuan yang mereka dapatkan dengan fenomena yang mereka hadapi. Akhirnya, melalui kegiatan tersebut sedikit demi sedikit keterampilan siswa meningkat.
Peningkatan kemampuan menulis kelas eksperimen yaitu (X1 dan X2) yang menggunakan pembelajaran menulis model konstruktivisme lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini merupakan dampak dari pembelajaran menulis yang dirancang secara khusus untuk meningkatkan kemampuan menulis berdasarkan rambu-rambu SK / KD dan teori belajar konstruktivisme. Oleh karena itu, model pembelajaran yang disusun ini dapat dijadikan salah satu pilihan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa.
Nilai signifikansi (2-sisi) pra tes – pasca tes kemampuan menulis eksperimen 1 dan 2 (X1 & X2) aspek isi, organisasi, kosakata, bahasa, dan penulisan kata, serta jumlah seluruh aspek kemampuan menulis antara nilai pra tes dan pasca tes adalah sama ( 0,000; 0,000; 0;000; 0,000; 0,000, dan 0,000) atau lebih kecil dari nilai nyata 0,05 maka Ho ditolak atau rata-rata kemampuan menulis aspek isi, organisasi, kosakata, bahasa, dan penulisan kata, serta jumlah

8
seluruh aspek kemampuan menulis saat pra tes dan pasca tes berbeda secara signifikan (nyata) atau terdapat peningkatan seluruh aspek kemampuan menulis yang nyata setelah perlakuan (pembelajaran).
Nilai perbedaan (t hitung) pasca tes kemampuan menulis eksperimen 1 dan 2 (X1 & X2) dengan kelas kontrol (X3) aspek isi, organisasi, kosakata, bahasa, dan penulisan kata, serta jumlah seluruh aspek kemampuan menulis nilai pascates kelas eksperimen 1 dan 2 (X1& X2) dan kelas kontrol adalah 6, 331; 4, 6121; 6,1105; 8,9248; 3,515; dan 8,8806-- & --8,0438; 10,7664; 14,1244; 9,8773; 5,5874; dan 12,2514 lebih besar dari t0,095 (79) tabel 2,6239 maka Ho ditolak atau rata-rata kemampuan menulis aspek isi, organisasi, kosakata, bahasa, dan penulisan kata, serta jumlah seluruh aspek kemampuan menulis pascates kelas eksperimen 1 dan 2 berbeda secara signifikan (nyata) dengan kelas kontrol atau terdapat peningkatan seluruh aspek kemampuan menulis yang nyata setelah perlakuan (pembelajaran) kelas eksperimen 1 dan 2 (X1 & X2) dibandingkan dengan kelas kontrol (X3). Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1
Uji Perbedaan Rata-rata (Uji t) Aspek Keterampilan Menulis Kelas Esperimen 1 (X1) dengan Kelas Kontrol (X2) No Aspek Keterampilan Menulis Rata-rata Nilai (IIF) Rata-rata Nilai (IIE) thitung t00,95 (79) tabel Tafsiran
1 Isi Karangan 22,5 19,4 6,331 2,639 Signifikan
2 Organisasi 15,10 13,5 4,6121 2,639 Signifikan
3 Kosa Kata 15,00 13 6,1105 2,639 Signifikan
4 Bahasa 18,1 14,9 8,9248 2,639 Signifikan
5 Penulisan 3,88 3,48 3,515 2,639 Signifikan
Seluruh Aspek Keterampilan Menulis 76,46 64,25 8,8806 2,639 Signifikan





9
Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi Penelitian
Simpulan
Studi ini memiliki implikasi teoretis dan praktis tentang pengembangan model belajar konstruktivisme. Secara teoretik, studi ini berimplikasi bahwa siswa seharusnya dipandang sebagai individu yang memiliki potensi yang unik untuk berkembang, bukan sebagai tong kosong yang hanya menunggu untuk diisi oleh orang dewasa (guru). Secara praktis, studi ini berimplikasi bahwa model belajar konstruktivisme dibutuhkan untuk mengembangkan kecakapan pribadi-sosial siswa dalam mengembangkan potensi kreatifnya melalui bahasa tulisan.
Hasil penelitian ini adalah (1) secara umum model belajar konstruktivisme dapat diterima oleh siswa sebagai suatu kemudahan dalam belajar menulis, (2) model konstruktivisme memiliki keunggulan secara komparatif terhadap model belajar konvensional yang digunakan di kelas kontrol, (3) secara umum model belajar konstruktivisme dapat meningkatkan seluruh aspek keterampilan menulis, (4) keunggulan model belajar konstruktivisme adalah melatih sistematika berpikir, memotivasi untuk berbuat lebih kreatif, dan memberikan lingkungan belajar yang kondusif berupa lingkungan alam sebagai sumber belajar, (5) kelemahan model belajar konstruktivisme adalah perlu latihan adaptasi lebih dahulu untuk dapat belajar mandiri mengkontruksi pengetahuannya, dan (6) model belajar konstruktivisme mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan menulis kelas eksperimen.
1) Hasil analisis menulis siswa dalam pembelajaran menulis model konstruktivisme
(1) Aspek Kebahasaan
a. Kemampuan menggunakan Ejaan yaitu (a) penulisan kata umumnya sudah benar, kecuali penulisan kata turunan dan kata depan; (b) pemakaian huruf besar pada nama sudah benar, namun masih terdapat kesalahan pada penulisan kata tugas dalam judul karangan; (c) penggunaan tanda baca umumnya sudah benar kecuali penggunaan tanda koma pada kalimat berklausa ganda; (d) pengembangan kosa kata bertambah; (e) penggunaan kata-kata khusus dalam karangan berkembang.
b. Kemampuan membuat kalimat: (a) kemampuan membuat kalimat yaitu (a) umumnya kalimat sudah sempurna yang tersusun minimal oleh subjek dan perdikat;
10

(b) susunan kalimat lebih kompleks; (c) masih terdapat beberapa pokok pikiran kalimat dalam satu kalimat, sehingga kalimat tersebut harus dipisahkan sesuai dengan jumlah pokok pikirannya.
c. Kemampuan menggunakan sarana kohesi sudah berkembang; variasinya bertambah.
(2) Aspek kognitif siswa berkembang dalam penggambaran, penafsiran, dan
penyimpulan karangan.
(3) Aspek afektif/emosional siswa dalam karangan semakin berkembang yaitu sudah
menunjukkan minat, kegairahan, dan keseriusan dalam mengarang. Sudah
menunjukkan sikap sosial dalam karangan; keterampilan berpikir dalam
mengungkap gagasan semakin berkembang; dan aspek pengalaman lebih dapat
diproses secara kompleks.
2) Hasil penilaian pembelajaran model belajar konstruktivisme dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris.
(1) Aspek isi
Pada umumnya siswa sudah memahami isi secara luas, lengkap, dan terjabar. Isi
sesuai dengan judul meskipun kurang terinci.
(2) Aspek organisasi
Organisasi karangan umumnya sudah teratur, rapi, dan jelas. Gagasannya sudah banyak, urutannya logis, dan kohesi cukup tinggi.
(3) Aspek kosa kata
Kosa kata siswa umumnya luas, penggunaannya efektif. Mereka umumnya menguasai pembentukan kata serta pemilihan katanya tepat.
(4) Aspek bahasa
Penggunaan dan penyusunan kalimat umumnya sederhana, sedikit kesalahan tatabahasa dan tanpa mengaburkan makna.
(5) Aspek penulisan kata
Siswa umumnya menguasai kaidah penulisan kata. Namun, masih ada sedikit kesalahan ejaan.

11

Implikasi Penelitian
Berdasarkan simpulan penelitian yang telah dipaparkan, maka diajukan beberapa implikasi yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan menulis siswa sebagai berikut.
1. Prosedur pembuatan perencanaan pembelajaran dalam mengaktifkan siswa harus jelas dan memberikan solusi pengembangan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor yang dituangkan ke dalam tulisan.
2. Pelaksanaan dan penerapan model belajar konstruktivisme secara sederhana dapat dilakukan dengan model siklus belajar dengan tahapan: a) eksplorasi, b) penemuan konsep, dan c) aplikasi. Dalam kegiatan ini terjadi rekonstruksi pikiran siswa yang terus-menerus sehingga proses belajar pun terjadi terus-menerus. Dengan demikian, proses membangun pikiran yang bermakna akan selalu terjadi dalam setiap kegiatan.
3. Hasil tulisan siswa yang layak dihargai dengan cara dipresentasikan di depan kelas dan atau ditempel di majalah dinding sehingga terjadi interaksi kelas yang hidup dan suasana
pembelajaran yang lebih menyenangkan karena siswa merekonstruksi konsep-konsep hasil penemuannya sendiri dalam bentuk tulisan.
4. Usaha untuk meningkatkan kemampuan menulis melalui proses penulisan
karangan dimulai dengan mengaitkan bahan pelajaran yang sudah diterima dengan bahan pelajaran yang akan dipelajari dan siswa selalu dituntut untuk memetakan apa yang sudah dipelajarinya dalam bentuk kaitan ide/konsep yang memakai penghubung preposisi sehingga dalam pikiran siswa tergambar konsep/ide yang utuh tentang apa yang dibacanya/dipelajarinya dan dapat mengungkapkan pengalaman atau pengetahuannya tersebut secara lisan atau tulisan dengan tepat dan cepat.
5. Analisis dan penilaian karangan mempunyai kriteria atau pedoman penilaian
yang jelas dan dapat mengukur kemampuan menulis siswa secara lengkap walaupun dalam bentuk sederhana sehingga dapat dipakai rujukan untuk mengembangkan keterampilan menulis lebih lanjut.
6. Disebabkan berbagai keterbatasan, kekurangan, dan kendala, hasil penelitian
yang dipaparkan dalam penelitian ini masih mungkin mengandung kekeliruan tertentu yang memerlukan penyempurnaan. Untuk itu, perlu penelitian lebih lanjut dengan

12
penelitian tindakan kelas atau penelitian studi kasus, sehingga masalah-masalah dalam menulis yang dihadapi oleh siswa akan lebih banyak terungkap dan penyelesaiannya pun diharapkan dapat dilakukan secara komprehensif dan dipecahkan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah yang diteliti.

Rekomendasi Penelitian
(1) Model pembelajaran konstruktivisme diharapkan menjadi masukan bagi guru
bidang studi bahasa Inggris untuk mengembangkan kemampuan profesinya. Namun, model ini menuntut kepercayaan guru bahwa siswa mampu berkembang dan kreatif dalam menulis, asal gurunya aktif dan kreatif sebagai fasilitator dan moderator.
(2) Model ini memerlukan proses yang agak panjang. Namun, kalau siswa sudah
memaknai apa yang dipelajarinya, model ini akan sangat bermanfaat untuk membantu siswa memenuhi apa yang dibutuhkannya dalam membuat karangan.
(3) Pengembangan penelitian ini disarankan dengan menggunakan metode
penelitian kelas dan studi kasus, sehingga masalah yang dihadapi oleh siswa dalam proses penulisan dapat dipecahkan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing.


















13


DAFTAR PUSTAKA

Chen, I. (1999). Sosial Constructivism: Problem Solving. Tersedia:http://www.coe.uh.edu/~ ichen/ebook/ET-IT/problems [19 Juli 1999]
Chen, I. (1999). Social Constructivism: Situated Learning. Tersedia: http://www.coe.uh.edu/ ~ichen/ebook /ET-IT/situ-htm [19 Juli 1999]
Cook, T. D. dan Reichardt, S. C. (1979). Qualitative and Quantitative Methods in Evaluation Research. London: Sage Publications Ltd.
Dahar, R. W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Flood. J. dan Peter, H.S. (1984) Language and the Language Art. New Jersey: Prentic Hall, Inc.
Fraenkel, J. R. dan Wallen, N. E. (1990). How to Design and Evaluate Research in Education. New York: Mc Graw-Hill Publishing Company.
Furqon. (1997). Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Gagne, R. M. (1977). The Conditioning of Learning. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.
Herron, J. D. (1988). The Contructivis Classroom. Purdue University: West Lafayette.
Lado, R. (1976). Language Teaching. New Delhi: Tata Mc. Graw Hill.
Meyers, C. (1986). Teaching Student to Think Critically. San Francisco: Jossey-Bass Inc. Publisher.
McCrimon, J. M. (1983). Writing With a Purpose. Boston: Houghton Mifflin Company.
Newman, V. dan Holzman, L. (1985). Revolutionary Scientist. London: Routlege.
Nggermanto, A. (2002). Quantum Quotient: Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang Harmonis. Bandung: Penerbit Nuansa.
Nickerson, R. S. (1985). The Teaching of Thinking. New Jersey: Lawrence Arlbaum.
Osborne R. J. dan Fryberg, P. (1985) Learning in Science: The Implication of Children’s Science, Porthsmouth: N.H. Heinemann.
Phillips. A. (1998). Constructivism in the Classroom. [on-line] Available. Tersedia: http://dilbert. shawnee.edu/~the money/school/cons.html.
Piaget, J. (1974). The Construction of Reality in the Child. New York: Ballantine Books.
Porter, B. D. dan Hernacki, M. (2000). Quantum Learning: Unleasing the Genius in You. New York: Dell Publishing.
Santoso, S. (2002). SPSS Versi 10: Mengolah Data Statistik Secara Profesional.
Jakarta: PT Elek Media Komputindo.
Tobin. K., Tippins, D., dan Gallard, A. J. (1994). “Reasearch on Intructional Strategies for Teaching Science”, dalam Handbook of Research on Science Teaching and Learning. New York: McMillon.
Wilkinson, A. (1983). “Assesing Language Development: the Crediton Project”. dalam Learning to Write: First Language/Second Language. London and New York: Longman.
Yager, R. E. (1992). The Contructivism Learning Model: a Must STS Classroom the Sattis of Science Technolgy Society Reform Efforts Around the World. Iowa: Iowa University.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar